Rabu, 08 Oktober 2008

Laskar Pelangi, sebuah buku beribu inspirasi,,

Aku adalah orang yang gemar membaca. Selama bacaan itu bisa di baca, akan ku baca. Ku dapatkan rekomendasi akan sebuah buku berjudul Laskar Pelangi. Bahasanya nyastra pisan, dan saat itu jiwa melankolisku entah ada dimana. Jadi... aku tidak melanjutkan pembacaan buku itu. Sampai akhirnya buku itu jadi heboh banget. Aku jadi penasaran pengen baca juga. Masih boring baca bukunya. Apalagi aku merasa tak ada informasi baru yang aku dapatkan dari buku tersebut.

Hari ini aku menonton filmnya. Sejujurnya,aku lebih bisa menangkap maksud dari cerita-cerita yang ada dalam bukunya. Aku merasa semakin yakin, kalau aku juga mengalami pengalaman yang tak jauh berbeda dengan sang penulis. Kehidupan itu pernah juga ku alami. Kesenjangan sosial yang terjadi di wilayah industri dan pertambangan. Memang mengurangi angka pengangguran, namun merusak tatanan alam juga sosial yang ada. Yang terakhir adalah kerugian terbesarnya. Bagaimana tidak? Perusahaan-perusahaan industri dan pertambangan ini pasti butuh tenaga ahli yang hampir semua bukan putra daerah. Para tenaga ahli itu pasti membawa keluarga mereka tinggal disana. Fasilitas-fasilitas eksklusif yang mewah pun dibangun. Dan pastilah putra daerahnya yang tak jauh-jauh dari posisi karyawan rendahan hanya bisa menatap kagum fasilitas-fasilitas tersebut. Sungguh merusak tatanan sosialnya. Sebuah transaksi yang merugikan luar biasa.

Bisa dibilang posisiku adalah salah satu anak SD PN Timah. Tapi aku tinggal dan sehari-hari bermain dengan para laskas pelangi. Aku jadi turut miris dengan nasib teman-temanku dulu. Sekarang, hanya aku yang beruntung dapat melanjutkan sekolah hingga jenjang perguruan tinggi, sementara yang lain ku dengar kabarnya, hanya jadi kuli, petani dan yang paling top adalah lulus SMEA atau STM jadi kasir toko atau mandor bangunan. Padahal dulu aku banyak bertanya pelajaran pada mereka. Persis nasib Lintang. Terkadang hidup memang kejam. Ayahku pernah menyebutnya lingkaran setan. Orang pinter maka kaya. Orang ini akan menurunkan kepintarannya pada anaknya. Dan anak yang pintar dengan segala fasilitas yang ada akan berhasil dan akan kaya kembali. Dan seterusnya. Begitu juga sebaliknya. Hanya orang-orang hebat yang bisa keluar dari lingkaran setan ini.

Kembali menggelitik jiwa idealismeku. Menusuri ujung cita-citaku. Aku berpikir. Aku harus siap jadi Bu Muslimah dan Pak Harfan yang ke sekian. Hidup apa adanya. Aku tak tau kapan cita-cita ini bermula, yang jelas aku merasa hidupku tlah diset olehNya dengan sedemikian rupa untuk (saetidaknya hanya punya harapan) membangun daerah. Mengabdi pada masyarakat.

Sabtu, 16 Agustus 2008

Kematian? Masih ingatkah kita padanya?

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,, tlah berpulang ke rahmatullah sahabat kita Raden Muhammad Magribi Akbar, td sore, dst...

SMS dari Nadia, Iin juga Dania.

Kalau bukan 3 orang ini yang memberi tauku. Aku pasti akan mengira ini berita bercanda. Aku syok!!! Termenung hampir setengah jam. Akhirnya kuputuskan untuk penelpon Laras. Karena ketiganya tak bisa tak bisa ku hubungi. Bibirku bergetar. Masih syok.

"Dapet kabar nggak?"

"Kabar.... Akbar?"

"Beneran itu teh?"

"Beneran Aina!"

"Bohong!"

"Beneran!"

"Kenapa sih? Kecelakaan?"

"Laras juga nggak tau."

Seorang Laras pun aku konfirmasi perkataannya. Aku sungguh tak mau percaya. Aku kembali menelpon temanku. Akhwat yang kupikir cukup dekat dengannya.

"Ci, kenapa sih emangnya? Kecelakaan?"

"Dia emang sakitnya udah lama, dari kecil githu. Cuman parahnya tuh emang baru dari dia kuliah. Sok geura waktu SMA khan dia terlihat baik-baik saja. Cuman Eci emang udah tau dari SMA. Januari kemaren aja katanya udah sampe peradangan kaki githu deh."

Really?

Aku masih belum mau percaya. Aku termenung kembali. Kanget, rewas, syok dan tak mau percaya.

Padahal baru beberapa hari yang lalu aku bertanya-tanya tentang keberadaan temanku ini. Ku kunjungi fs nya... n kupikir dia baik-baik saja. Raden Muhammad Maghribi Akbar. Rasanya baru kemarin aku mengetik namanya di proposal Idul Adha hampir 4 tahun yang lalu. Aku kehabisan kata kalau di"piwarang" -bercerita tentang sosoknya. Masih terngiang-ngiang percakapan terakhirku dengannya. Waktu itu hari pertama spmb. Aku berpapasan dengannya di depan gedung sma 3. Dia menyapaku, "Assalamu'alaikum, Aina. Ngapain ke sekolah?" ,, Memang hal yang cukup aneh,, datang ke sekolah pasca spmb hari pertama. Biasanya khan ke bimbel nyocokin jawaban. Tapi, kala itu aku tak tau bagaimana caranya pulang ke rumah dari sma 2, tempatku ujian. Yang ku tau hanya jalur dari 2 ke 3 dan dari 3 ke rumah. Lagi pula hari itu adalah hari ke3 pasca kepulanganku dari rumah sakit. Tentu saja, aku tak mau ambil resiko nyasar. Aku katakan saja alasanku yang sejujurnya. Dan dia hanya tersenyum, "Oh, githu. Ya udah atuh. Assalamu'alaikum." Aku pergi setelah menjawab salamnya.

Siapa sangka itulah komunikasi terakhirku dengannya. Memang sudah satu tahun yang lalu. Tetap saja, saat itu aku tak menyangka bahwa itu komunikasiku yang terakhir dengannya. Memang ada yang aneh. Aku sangat jarang sekali berkomunikasi dengan ikhwan. Tapi entah kenapa saat itu. Dia menyapaku terlebih dahulu. Sungguh di luar kebiasaan. Biasanya orang baru menyapaku bila aku tak sendiri. Dan itu pun terlebih dahulu menyapa teman yang bersamaku. Mungkin DIA ingin kawanku ini tinggalkan kesan khusus pada setiap individu. Ah, betapa DIA sayang pada temanku ini. Kuingat lagi pengalamanku dengannya. Sama sekali tak ada yang tak mengenakan. Betapa memang Allah Mahaadil. Orang baik, pastilah ditutupi aib-aibnya.

Hidup. Untuk apa kita hidup? Untuk mensyukurinya dengan terus berusaha agar diri ini berikan yang terbaik untukNya. Bukan untuk siapa-siapa. Pada akhirnya itu akan berbalik untuk diri kita sendiri. Aku jadi bertanya pada diriku sendiri. APA KESAN YANG TLAH KAU TINGGALKAN UNTUK SAHABAT-SAHABATMU? Ku pikir mereka harus berhusnudzan ekstra padaku. Agar aku terkesan seakan-akan adalah orang yang baik.

Rabu, 13 Agustus 2008

Pilwalkot Bandung 2008

Kemarin aku di sms oleh seorang teman,

Survei Lenskep : 1.35,8,,2.39,4,,3.7,8,,golput.17,,

Unggul 4 persen. Suatu hasil yang terlalu muluk buatku. Feelingku sejak awal sudah jelek. Feelingku kalah tipis. Ku balas sms temanku itu,, buat survei tandingan,, gubrak!

Feelingku... 1.28,, 2.26,, 3.5,, golput.41,, yang menang golput,, masyarakat sudah jengah kawan.

Dan feelingku kali ini salah. Untuk suara 2, feelingku tepat, 26. Namun, 1 unggul jauh... berkali lipat dibanding 2. Ternyata kenyataan lebih kejam dari feelingku. Perolehan suara merosot tajam dibanding suara partai 16, 4 tahun lalu. Sejak awal durjana memang terlalu kuat. Sebagai pengamat yang tak tau banyak, aku cukup kaget dengan keputusan partai 16 untuk tak dukung 1.

Pemerintahannya sama sekali tak bisa dibilang buruk. Cukup berhasil walau bandung tetap carut marut. Cukup bersih walau tak kesat layaknya piring pecah belah setelah di cuci sabun cair. Dan yang paling utama adalah kepopuleran 1 tak ada yang mengalahkan. Akan sulit mengalahkan popularitasnya, apalagi jika tokoh yang diusung sama sekali belum dikenal masyarakat. Aku kebingungan dalam waktu yang cukup lama. Tak mengerti pikiran para elit partai 16 yang sering buat keputusan yang terlalu berani.

Aku baru mengerti ini setelah sedikit cerita dari ibuku. Begitu partai 16 memutuskan tak dukung 1, partai 28 mendekati partai 16. Namun, 1 segera menggaet partai 28. Tau alasannya? 1 begitu takut, karena koalisi 16 dan 28 terkadang sangat mematikan. Berkali-kali partai 33 kalah. Bisa tertebak tujuan 1 tak lain dan tak bukan adalah kekuasaan. Mataku mulai terbuka. Dan semakin terbuka, ketika aku sering melihat 1 hanya mempromosikan dirinya seorang diri. Ambisi 1 terhadap kekuasaan terlihat jelas. Setauku, ini bertolak belakang dengan prinsip dasar partai 16. Aku jadi semakin mengerti alasan partai 16 tak dukung 1. Semakin terlihatlah betapa pengetahuanku tentang prilaku "orang-orang terhormat" sangat sedikit.

Aku yakin, kekalahan ini bukanlah akhir dari apapun. Ini adalah sebuah pembuktian dari partai 16. Bahwa yang mereka perjuangkan bukanlah kuasa. Kalau kuasa yang jadi tujuan, tak susah untuk turut mendukung 1 meminta kursi wakil. Dengan 40 persen suara yang diperoleh 4 tahun lalu. 1 tentu tak akan kuasa menolak. Koalisi ini jelas bakal lebih kuat, kalaupun seandainya partai 28 dan partai-partai lainnya bersatu, menantang nomor 1.

Namun, inilah pilihan masyarakat bandung. Biarkan mereka lihat hasil pilihan mereka.

Sebuah kisah dibalik Pilkada

"Kamu kemana aja?"

Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum. Aku bingung harus menjawab apa. Bingung tutupi keegoan diri.

"Teu boga duit ey, ongkos naek."

Tak sepenuhnya bohong, namun tak jujur. Memang aku tak punya uang dan ongkos naik, tapi bisa saja andai diri ini mau sedikit berusaha dan berkorban. Berusaha meminta uang pada orang tua atau berkorban pergi pagi bersama salah satu orangtuaku. Tapi... enggan ku lakukan semua itu. Saat itu aku hanya ingin miliki diriku sendiri. Utuh. Tak ada yang bisa membujukku datang rapat ini dan itu, survey ini dan itu. Kali ini aku benar-benar penat. Penat biarkan diriku jadi milik umum. Salahkah jika ku butuh waktu sedikit saja tuk miliki diriku sendiri. Miliki pikirku sendiri. Miliki jiwa dan ragaku sendiri. Ah, betapa egoisnya diriku ini.

"Ah, maneh! Ngarang pisan."

Sesal juga diriku ceritakan semua padanya. Tentang kejadian yang membuatku muak. Sebulan yang lalu kakekku meninggal dunia. Saat itu, ibuku sedang menemani istri sang walikota ke suatu acara di Jambi sana. Ya, pulang langsung tak sesuai jadwal, sewaktu itu kakekku masih koma, belum meninggal. Karena itulah, kematian kakekku ini bisa diketahui oleh walikota kotaku tinggal.

Semalam sebelum penguburan, ada kabar berhembus. Pak walikota akan berkunjung ke rumahku. Ini membuat sedikit kehebohan di rumahku. Apa pasal? Pilkada sebentar lagi. Beberapa bibiku adalah kader dari partai 16. Partai yang akan bertarung dengan partai 33 yang mengusung sang walikota kembali. Beberapa stiker partai 16 terpangpang di jendela rumahku. Dengan kepolosan tersendiri dipasang oleh adik-adik sepupuku. Menjaga kenetralan, ibuku dibantu ayahku berusaha membersihkan stiker-stiker tersebut. Di beri pandangan tak sedap oleh adik sepupuku yang merasa kerja kerasnya akan dipangkas. Usaha kedua orangtuaku sia-sia. Selain banyak hal lain yang harus dilakukan juga karena lem yang menempel terlalu kuat. Logikanya sih githu. Sudahlah.

Di belakang, hal ini jadi perbincangan yang cukup dahsyat.

"Tenang aja, nanti seluruh kader yang tinggal di daerah situ pada suruh dateng semua."

Hello!! Haruskah hal ini jadi hal sehebat ini??? Siapa sih sebenernya orang-orang sekitar aku. Aku sungguh tak lagi kenali mereka. Letih yang menjambangi tumbuh bertambah puluhan kali lipat.

Pada akhirnya memang hanya wakil dari sekda yang datang. Aku tak bisa bayangkan perang macam apa yang akan terjadi bila pak walikota itu benar-benar datang. Kukira semua telah berakhir. Nyatanya... sore hari sesudah penguburan... datang serobongan ibu-ibu... kau tau siapa? Ternyata istri sang walikota datang. Sepulangnya sang istri, salah satu bibiku bilang,

"Teh, tadi aya sms ti pak ketua dprd kota. Maaf nggak bisa ke sini,"

Ketua dprd kota berasal dari partai 16. Entah lewat jalur mana bibiku itu mengenalnya.

Sekali lagi...

Hello!! Haruskah hal ini jadi hal sehebat ini??? Siapa sih sebenernya orang-orang sekitar aku. Aku sungguh tak lagi kenali mereka. Letih yang menjambangi lagi-lago tumbuh bertambah puluhan kali lipat.

MUAK!!! Aku sungguh muak dengan semua ini. MUAK!!! Hello guys! Perang belum dimulai. Mengapa kalian sudah mulai menabuh genderang perangnya?

Kamis, 07 Agustus 2008

PC08

PatLabor Camp akhirnya berlalu juga. Sebuah acara yang terkesan dipaksakan ada. Seakan seharusnya acara ini tidak usah ada. Sejujurnya aku sempat merasa bersalah ama "atas-atas" karena walaupun kontribusiku bukan apa-apa dibanding panitia yang lain, apalagi ashari+iin, tapi bisa dibilang aku adalah 07 yang paling mencereweti iin (lagi-lagi iin) + chien supaya PC08 tetep ada, bagaimanapun caranya. Aku ingin sesuatu yang jadi titik balikku tetap dilestarikan. Sudah terlalu banyak yang terputus di 2007. Cukup, dan untuk yang satu ini tolong jangan putus juga di 2007. Titik. Tidak sesuai dengan kecerewetanku selama ini, aku mengambil amanah di pubdok. Inget-inget potensi juga. Maaf ya, diriku kabur dari konsep-konsepan. Paling nggak ngerti dah yang begituan. H-2 minggu, panitia sempet frustasi karena yang daftar sangat jauh dari target. Mana dana belum ada. Soal dana ada sebuah kejadian menarik.

Pernahkah terbayangkah,, 15 ribu untuk 3 hari. Helloo... jaman kapan ya sekarang? 50 ribu buat sehari aja belum tentu cukup. Lah? Ya, ini adalah kesalahan pubdok. Ujug-ujug di pamflet ditunjukin uang yang harus dibayarkan. Padahal belum disyurain. Sebagai bagian dari keseksian pubdok, aku minta maaf khususnya kepada keseksian danus, konsumsi dan acara. Konsumsi yang tadinya nggak niat masak, jadi memaksakan masak dan memastikan ada rumah yang bisa dipakai untuk masak. Tak ada pilihan lain dengan dana 15 ribu.

Publikasi pun kembali digencarkan. Aku pun memanfaatkan sms murah yang ditawarkan operator nomor baruku. 1000 untuk 50 sms per hari ke semua operator. Iklan dikit kagak papa, itung-itung tanda terima kasih. Karena data yang ada 150. Aku pun membaginya jadi 3 hari. Cukup cerdas bukan. Gabruk!!!

Alhasil...

Akhwat yang daftar membludak. Karena 150 data di aku itu akhwat semua, aku sudah berusaha minta data ikhwannya, tapi... kagak dikasih. Ya... gimana ceritanya tuh. Maaf ya kagak bantu.
Kepusingan pun beralih. Panitia lapangan kurang, terutama akhwat. 1:belasan. Panitia diluar konsumsi yang memastikan kedatangannya hanya 3 orang. Aku, iin, reni. Yang lain hanya bilang, diusahain tapi nggak janji. Panitia konsumsi tentu tak akan terpikirkan apa-apa kecuali menyiapkan makanan buat 80 orang. Kembali aku dan iin gencar mencari dan membujuk anak 07 lainnya. Membawa hasil. Lita dan Febi serta Nadia akhirnya mau ngusahain. Nadia malah mengorbankan osjurnya. Ada atau tak ada osjur, aku dateng. Karena sudah saking paniknya, aku dan iin tak berusaha menolak apalagi melarang. Fitra yang udah balik ke depok pun aku telepon. Yang tadinya bilang "jangan maksain" jadi "kalo mo maksain terserah aja". Alhamadulillah ada 7 orang panitia yang insya Allah ada.

Di hari H nya...

Betapa bodohnya aku semakin kentara. Aku melupakan akhwat-akhwat 5. Alhamdulillah panitia lapangan bertambah dengan adanya 2 Indah, Indah dan Indah Budi juga Nur di konsumsi dan Dea yang tadinya bilang nggak bisa. Ika yang tadinya aku pikir nggak akan dateng, karena begitulah bilangnya, dateng juga. Rina yang tidak menjanjikan ada pada saat masak memasak, tapi menyilahkan pemakaian rumahnya, malah punya peran yang tak tergantikan. Bahkan makan paginya pun dimasakin ama uanya Rina. Makasih. Semua berjalan dengan cukup lumayan pada hari pertama. Pesertanya subhanallah! Keren. Sangat aktif. Tanpa keaktifan mereka, acara ini akan membosankan dan tak akan semeriah ini. Ikhwan? Tak usah pikirkan ikhwan. Cukup 43 akhwat jadi pikiran panitia akhwat.

Hari kedua, aku pribadi lebih banyak mobile nya dibanding stay nya. Pagi-pagi ikut seksi konsumsi belanja ke pasar. Riweuh dah nawarna. Biar cuma dapet potongan 1000 per kilo kalo belinya 5 kilo khan lumayan banget tuh. Di hari ke 2 ada kejutan dari anak-anak elektro. Mereka nggak da osjur. Panitia pun bertambah dengan jumlah yang cukup signifikan. Jija, Karin, Feiza, Araf. Di hari ini, aku 4 kali melewati rumahku. Mengantar dan menjemput pemateri di Jatinangor. Aku jadi semakin ingin memindahkan itb ke jangor. Gubrak!!! Malam harinya ada berita mengejutkan. Untuk anak-anak yang daftar ke itb harus ngumpulin sdpa. Alhasil peserta hanya bersisa setengahnya. Dan aku cukup stress dibuatnya. Hari ini juga membuat aku sadar selama ini aku berteman dengan ikhwan-akhwat macam apa. Dan sejujurnya, walau kami satu gedung selama 3 tahun, tapi... baru kali ini aku benar-benar merasakan berteman dengan mereka (terutama ikhwan 3 maupun 5 juga akhwat-akhwat 5). Lagi-lagi menunjukan betapa aku tak manfaatkan 3 tahun waktuku dengan mereka.

Hari ketiga, outbond. Krisis panitia akhwat kembali terjadi. Ada diklat terpusat dan wajib untuk para taplok itb. Bagus,, dan aku tak mengerti mengapa chien bisa ada di sana. Setauku dia taplok. Yang menarik disini... untuk pertama kalinya, akhwat mendahului ikhwan. Outbondnya punya jalur yang sama. Dan... akhwat lebih dulu sampai. Dasar ikhwan-ikhwan lelet!!! Selidik punya selidik, aku, Febi dan Lita sempat melihat pemandangan yang cukup aneh. Masa ikhwan foto-foto. Cpd!!!! Udah githu, bayangin donk masa akhwat disuruh nungguin ikhwan maen. Afwan, emosi jiwa yeuh... Alhasil akhwat maghrib-maghrib masih ada di dago pakar. Sebuah kesalahan terfatal. Akhwat harusnya udah sampe rumah jam 5 sore. Untuk aku sendiri, nyante udah biasa isya masih berkeliaran. But... for peserta dan panitia yang lain. Kita nggak tau apa yang terjadi seketika mereka sampe rumah masing-masing.

Apresiasiku untuk peserta...

Arigatou!!! Tanpa kalian panitia bukan apa-apa. Tanpa kalian kerja panitia selama 2 bulan terakhir ini nggak ada artinya.

Apresiasiku untuk panitia...

Secara keseluruhan,, kalian keren,, ku pikir inilah acara terbaleg yang pernah kita buat. Allahu Akbar!!! Di itung-itung setengah dari kita adalah orang-orang yang nggak lulus tahun lalu. Tapi itu nggak jadi alasan buat nggak jadi panitia. Suerr!!! Apresiasiku tak terbatas untuk kalian. Untuk itu akan kucoba sebutkan satu per satu. Maaf kalo ada yang nggak kesebut.

Ketua : Ibam,, temen smpku. Aku nggak tau apa yang dilakukan oleh akang-akang SMA 5 sehingga bisa buat dia jadi kayak githu. Makasih ya mau jadi ketua panitia. Padahal dia termasuk salah satu peserta SPMB tahun lalu yang kurang beruntung. Tapi... hebatnya... dia mau aja jadi KETUA daurah yang sebenernya haknya dia kalau dia mau jadi peserta aja. Salut deh!

Wakil Ketua : Salik. Tadinya dia ini ketua yang sudah terpilih saat PC07. Tapi... karena kesibukan osjurnya. Akhirnya ketuanya berganti jadi ibam. Aku sendiri nggak tahu dan nggak ngerti kenapa serah terima jabatan itu bisa terjadi. Tapi yang ku dengar adalah setelah kami putuskan untuk meng-ada-kan PC08, Ibam berkomunikasi dengan beberapa orang dari kita,, "Kalo konsep 3 ama 5 sama disatuin, kalo beda... ya... disama-samain,",, gabruk dah! Tapi aku pikir ini kebijakan yang sangat bijak. Apecee...

Sekertaris : Laras,, aku kurang tau sepak terjangnya,, yang jelas dia yang mencetuskan target peserta 100 orang,, Sejujurnya aku merasa inilah titik balik dari setiap bagian kepanitiaan PC ini. Walau pada akhirnya kewalahan juga mengang 60 doank. Karin... tak akan ada kata yang cukup untuk menggambarkannya. Benar-benar akhwat perkasa. Seorang ikhwan pernah berkomentar, "Kar, kamu teh sekertaris atau seksi transport?",, Dan Karin hanya menjawabnya dengan tawa. Gimana nggak githu,, bayangin aja bulak-balik jatinangor-gegerkalong,, 2 kali. Kalo itu kerjaan sekertaris kebangetan deh bosnya. Ya... apa sih yang nggak bis a di PC. Aku nganterin aja capek. Apalagi yang nyetirnya. Pengorbanannya tak tergantikan.

Bendahara : Bubeng dan Chien. Aneh!!! Biasanya yang jadi bendahara itu khan akhwat. Ini ikhwan. Dan... aku salut ma kalian berdua. Telaten bo! Belum lagi Bubeng yang nggak beda nasibnya ama Ibam. Tapi masih mau ambil bagian. Aku benar-benar salut. Angkat kaki e... angkat topi maksudnya... deh. Eh, ada akhwatnya dink,, Jija kalo nggak salah Danus yang merangkap Bendahara juga. Berhubung Jija itu akper layaknya Karin, jadi tak masalahlah dia berada di kerumunan para penyamun nggak jelas itu.

Acara : Ashari, Iin, Indah, Reni, Araf, Aldira. Seksi acara memang nggak ada matinya... Kelemahanku adalah konsep. Kagak ngertilah kalo udah ngomongin konsep. So... Seburuk apapun hasil yang kalian bikin aku beri apresiasi diatas panitia lain. Apalagi kalo acara sebagus ini. Keren!!!! Alumni sampe bilang : "Terobosan yang kalian lakukan cukup berani, tapi berhasil. Kalo bisa ada follow up nya." KALIAN ADALAH BAGIAN PANITIA YANG PALING KEREN!!! Saking kerennya kalian aku sampe nggak tau speachless kalo harus ngomentarin kalian.

PubDok : Fei, Aina, Happy, Ika, Dea. NO COMENT,, Sebelumnya minta maaf ma panitia pubdok yang lain. Apa pasal? Aku suka kerja sendiri. Abis aku pikir kalian sibuk. Jadi aku nggak mau nambahin kesibukan kalian. Afwan. Udah githu buat ikhwannya, afwan nggak bantu ngaDSkeun. Saya udah minta datanya ke alumni ikhwannya tapi kagak dikasih. Mungkin bagi anak 5, keseksian ini sama sekali nggak kerasa ada. Afwan, saya bener-bener nggak tau mau minta datanya ke mana. Mencoba ke beberapa ADS 5,, nggak dapet wae. Tapi bagiku ini adalah seksi yang paling nyante. Bisa nyambi sana sini. Terutama hari H,, hampir semua ngedobel jadi Lapangan.

TransLogKon : Rio, Pasca, Vicky, Rina, Dania, Febi, Lita, Nur, Yaslin. Sebenernya ini tidak layak jadi satu keseksian. Harus dibagi 2, jadi TransLog : Rio, Pasca, Febi, Lita. Sisanya konsumsi. Banyak cerita menarik di sini. Sejujurnya memang aku yang membujuk Vicky yang lagi-lagi senasib dengan Pak Ket PC n Bendaharanya untuk mau jadi konsumsi. Aku pikir ini adalah salah satu keseksian yang paling krusial. Menyangkut perut banyak orang, artinya menyangkut jahat hidup orang banyak. Maka harus diserahkan pada orang yang amanah,, tentu saja bukan yang seperti aku,, hehe... Tadinya aku dan Iin mengonsep agar konsumsi masak makanan sendiri. Tapi Vq nggak nyanggupin, ya... kita balikin ke Vq aja. Tapi... berhubung kesalahan 15ribu tea terpaksalah mereka masak. Keren!!!!! Kekerenan Vq nggak perlu kita raguin lagi. Rina dengan kesibukannya sebagai taplok,, masih nyempetin diri dan meminta keluarganya buat bantuin kita. Terima kasih nggak akan cukup buat ngebayar semuanya. Nur, yang juga sama-sama kurang beruntung tahun lalu, lagi sakit pula, masih juga maksain. Yaslin,, senasib dengan Vq,, tapi sama sekali nggak minder. Butuh keberanian super biar jadi orang kayak dia. Dania... yang UTS hari kamisnya. Masih ikutan rakor subuhnya. Allah memang tak akan pernah mendzalimi hambaNya, dosennya nggak dateng, UTS nggak jadi. Allahu Akbar!!! Kalo Febi ma Lita sendiri di hari H nya lebih banyak berfungsi jadi lapangan juga mentor kafa,, tapi... kalo nggak da mereka juga, bakal hancurlah acara PC08 ini.

Lapangan : Dani, Agil, Hisni, Dito, Aryo, Wafdan, Mper, Nadia, Budi, Fitra. Afwan kalo ikhwannya ada yang nggak kesebut. Insya Allah, akhwat udah kesebut semuanya. Nggak apal sih. Ini dia keseksian yang paling kontroversi. Keseksian yang paling nggak jelas,, sehingga kerjaan seksi lapangan dikerjain ma semua panitia. Tapi... apresiasiku nggak kurang buat mereka. Buat Pak DanLap kita, Pak Dani,, ada titipin dari beberapa akhwat yang tidak ingin disebutkan namanya,, katanya... kurangilah sedikit sikap belagumu. Sumpah! Ini bukan kata-kataku. Tapi aku setuju,, biar nggak terus-terusan jadi nightmare gt,, beneran deh, sekarang diriku ngajak damai,, walau githu apresiasiku padamu nggak kurang dari panitia yang lain. Nadia yang berniat mengorbankan osjur, Fitra yang mengorbankan BEM, Budi yang buat acara makin ceria dan hidup. Kalian keren!!!!

PANITIA PC08,, kepanitian yang paling berkesan buatku setelah kepanitiaan MCamp 3 tahun yang lalu.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi pada kalian untuk menunjukan betapa berharganya kalian buatku. Tak ada kata yang sanggup gambarkannya. Aku ingin persahabatan kita abadi, sampai di surga. Kalau pun aku tak berhak masuk surga, aku ingin masuk surga karena aku mencintai kalian. Amien...

Selalu ingat kalau kita adalah satu tubuh. Janganlah saling menyakiti. Hanya orang tak waras yang mampu menyakiti tubuhnya sendiri. Dan aku yakin kalian masihlah orang-orang yang waras. Apapun yang keputusan yang tlah diambil teman kita. Jangan pernah menyalahkannya. Percayalah padanya, dia sudah pertimbangkan apapun resiko yang akan dia hadapi dengan pilihannya.

Hidup ini bagai sebuah bangunan. Yang setiap bagiannya adalah penting. Semua berbalik pada kita apakah kita dapat menyadari kepentingan dari bagian itu atau tidak. Kalau ada panitia yang kelewat atau terkesan kedatangannya adalah tidak penting karena tulisan saya. Hal itu bukanlah karena kontribusinya yang kurang tapi itu hanyalah kesalahan dan kebodohan saya yang tidak bisa melihat begitu pentingnya kalian. Ah... manusia memang tempatnya salah.

PC09? Akan adakah? Semoga kita berhasil seperti panitia PC07 yang berhasil memaksa kita mengadakan PC08. Panitia PC07,, walau kalian tak terlihat lagi,, kalian tetap berarti bagi kami,, setidaknya bagiku.

Allahhu Akbar!!!!